Literasi, Kebajikan, dan Moderasi Beragama Berkumpul di Bedah Buku LDII Jambi

Jambi – Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Provinsi Jambi menggelar Bedah Buku “Nilai-nilai Kebajikan Jamaah LDII” karya Dr. Ahmad Ali, MD, MA. Kegiatan yang berlangsung di Aula Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Jambi pada Sabtu (30/8/2025) ini menghadirkan suasana hangat penuh gagasan, dengan moderator Dr. Yunan Surono, SE, MM serta dihadiri tokoh agama, akademisi, hingga pemerhati literasi.
Acara dibuka oleh Kepala Bidang Urais Kanwil Kemenag Provinsi Jambi, Fatahudin, S.Ag., M.Fil, yang menegaskan bahwa moderasi beragama merupakan kunci menjaga persatuan bangsa.
"NKRI adalah konsensus nasional yang dibangun para ulama dan tokoh bangsa. Tugas kita adalah meneruskan dengan menguatkan moderasi beragama,” ujarnya.
Ia menyebut empat pilar moderasi beragama, yakni toleransi, anti kekerasan, komitmen kebangsaan, serta sikap akomodatif terhadap budaya lokal. Menurutnya, pilar tersebut penting sebagai benteng di tengah dinamika perbedaan dan tantangan zaman.
Sementara itu, Ketua DPW LDII Jambi, Rahmat Nuruddin, menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari langkah LDII membangun citra positif di masyarakat.
“LDII terus berbenah. Kami sadar perlu kerja keras untuk mengikis stigma lama. Melalui kegiatan ilmiah seperti ini, semoga masyarakat bisa melihat LDII secara objektif sebagai ormas yang berkontribusi nyata untuk bangsa,” ungkapnya.
Rahmat bahkan mengibaratkan perjuangan mengubah stigma layaknya kebiasaan orang menyebut satu merek air mineral untuk semua produk, meski berbeda. Namun ia optimis, LDII akan semakin diterima berkat kiprah dalam dakwah, pendidikan, hingga pembangunan sosial.
Kegiatan ini juga menghadirkan Prof. Dr. Bahrul Ulum, MA (Rektor ITS NU Jambi) dan Prof. Drs. H. M. Hasbi Umar, MA., Ph.D (Ketua FKUB Provinsi Jambi) sebagai pembahas. Keduanya memberikan pandangan mendalam terkait isi buku, sekaligus mengaitkannya dengan realitas kehidupan berbangsa yang majemuk.
Bedah buku bukan sekadar mengupas isi tulisan, melainkan menjadi wadah diskusi intelektual yang menumbuhkan budaya literasi kritis. Para peserta diajak untuk mengulas, menganalisis, serta memberikan masukan konstruktif demi memperkaya nilai kebajikan dalam kehidupan berjamaah.
Dengan antusiasme tinggi dari peserta, acara ini berhasil menjadi momentum penting untuk memperkuat wawasan kebangsaan, menghidupkan semangat literasi, serta menebarkan pesan damai di tengah keberagaman.(Rosyid).
Editor :Wanito